Home » » Peran Peserta Didik Dalam Perspektif Filsafat Islam

Peran Peserta Didik Dalam Perspektif Filsafat Islam

Written By Zulkifli on Selasa, 02 April 2013 | 00.47

BAB I PENDAHULUAN 

A. Latar Belakang 

Dalam dunia pendidikan ada beberapa pandangan yang berkembang berkaitan dengan peserta didik. Ada yang mendefenisikan peserta didik sebagai manusia belum dewasa, dan karenanya ia membutuhkan pengajaran, latihan, dan bimbingan dari orang dewasa atau pendidik untuk mengantarkannya menuju pada kedewasaan. Ada pula yang berpendapat bahwa peserta didik adalah manusia yang memiliki fitrah atau potensi untuk mengembangkan diri. Fitrah atau potensi tersebut mencakup akal, hati, dan jiwa yang mana kala diberdayakan secara baik akan menghantarkan seseorang bertauhid kepada Allah Swt. Kemudian, adapula yang berpendapat bahwa peserta didik adalah setiap manusia yang menerima pengaruh positif dari orang dewasa atau pendidik.
Dalam arti teknis, bahkan ada yang menyatakan bahwa peserta didik adalah setiap anak yang belajar disekolah atau lembaga-lembaga pendidikan formal. Peserta didik, ia tidak hanya sekedar objek pendidikan, tetapi pada saat-saat tertentu ia akan menjadi subjek pendidikan. Hal ini membuktikan bahwa posisi peserta didik pun tidak hanya sekedar pasif laksana cangkir kosong yang siap menerima air kapan dan dimanapun. Akan tetapi peserta didik harus aktif, kreatif dan dinamis dalam berinteraksi dengan gurunya, sekaligus dalam upaya pengembangan keilmuannya.
Eksistensi peserta didik sebagai salah satu sub sistem pendidikan sangatlah menentukan. Karena tidak mungkin pelaksanaan pendidikan tidak bersentuhan dengan individu-individu yang berkedudukan sebagai peserta didik. Pendidik tidak mempunyai arti apa-apa tanpa kehadiran peserta didik. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa peserta didik adalah kunci yang menentukan terjadinya interaksi edukatif, yang pada gilirannya sangat menentukan kualitas pendidikan Islam. 

 B.Rumusan Masalah 
Berdasarkan latar belakang diatas maka permasalahan yang akan dibahas yaitu : 
a.Apa pengertian peserta didik? 
b.Apa tanggungjawab dan tugas peserta didik ?
c.Bagaimana sifat peserta didik ? 
d.Bagaimana peranan peserta didik dalam pendidikan ? 

C.Tujuan 
a.Untuk memenuhi persyratan tugas mata kuliah Ilmu Pendidikan 
b. Agar mengetahui lebih dalam tentang peserta didik 

BAB II 
PEMBAHASAN 

A. Pengertian Peserta Didik 
Dalam usaha mendefenisikan istilah peserta didik, terlebih dahulu perlu dipahami beberapa sebutan lain dalam Bahasa Indonesia, yaitu istilah murid, dan peserta didik. Istilah murid dipahami sebagai orang yang sedang belajar, menyucikan diri, dan sedang berjalan menuju Tuhan. Peserta didik dipahami sebagai pendidik menyayangi murid sebagaimana anaknya sendiri dan dalam hal ini faktor kasih sayang pendidik terhadap peserta didik dianggap kunci keberhasilan pendidikan. Adapun istilah peserta didik adalah sebutan yang paling mutakhir, istilah ini menekankan pentingnya peserta didik berpartisipasi dalam proses pembelajaran. Pertumbuhan adalah perubahan yang terjadi dalam diri peserta didik secara alami yang ditandai oleh pertumbuhan tubuh menjadi bertambah besar.
Adapun perkembangan adalah yang menyangkut jasmaniyah dan ruhaniah.Dengan adanya pertumbuhan dan perkembangan yang masih berjalan, maka peserta didik dianggap belum dewasa hingga membutuhkan bimbingan orang lain untuk menjadikannya dewasa. Sebab pendewasaan merupakan tujuan dari pendidikan. Bimbingan dapat diberikan dalam berbagai lingkungan pendidikan, yakni lingkungan keluarga, sekolah dan masyarakat. Menurut Abd. Rahman Assegaf dalam bukunya yang berjudul Filsafat Pendidikan Islam, siswa atau peserta didik dipandang sebagai anak yang aktif, bukan pasif yang hanya menanti guru untuk memenuhi otaknya dengan berbagai informasi.Siswa adalah anak yang dinamis yang secara alami ingin belajar, dan akan belajar apabila mereka tidak merasa putus asa dalam pelajarannya yang diterima dari orang yang berwenang atau dewasa yang memaksakan kehendak dan tujuannya kepada mereka.
Dalam hal ini, Dewey menyebutkan bahwa anak itu sudah memiliki potensi aktif. Membicarakan pendidikan berarti membicarakan keterkaitan aktivitasnya, dan pemberian bimbingan padanya. Dengan demikian peserta didik merupakan salah satu komponen terpenting dalam pendidikan. Tanpa anak didik, proses kependidikan tidak akan terlaksana. 

B. Tugas dan Tanggungjawab Peserta Didik
 Tujuan dari setiap proses pembelajaran adalah mengajarkan ilmu ke dalam diri setiap peserta didik. Ilmu yang akan diajarkan tersebut adalah al-haqq, yaitu semua kebenaran yang datang dan bersumber dari Allah Swt, baik yang didatangkan-Nya melalui Nabi dan Rasul, (al-ayah al-quraniyah), maupun yang dihamparkan-Nya pada seluruh alam semesta, termasuk diri manusia itu sendiri (al-ayah al-kauniyah). Ilmu tersebut merupakan penunjuk jalan bagi peserta didik untuk mengenali dan meneguhkan kembali syahadah primordialnya terhadap Allah Swt sehingga ia mampu mengaktualisasikannya dalam kehidupan keserharian. Karenanya, dalam konteks ini, tugas utama setiap peserta didik adalah mempelajari ilmu dan mempraktikkan atau mengamalkannya sepanjang kehidupan. 
Berkenaan dengan tugas utama yang harus dilakukan peserta didik ini, Rasulullah saw melalui salah satu hadis menegaskan : menuntut ilmu merupakan kewajiban bagi setiap muslim dan muslimat. Proses menuntut atau mempelajari ilmu itu dapat dilakukan dengan berbagai cara, seperti membaca, baik yang tersurat maupun yang tersirat, mengeksplorasi, meneliti, dan mencermati fenomena diri, alam semesta, dan sejarah umat manusia berkontemplasi, berpikir, atau menalar, berdialog, berdiskusi atau bermusyarah, mencontoh atau meneladani, mendengarkan nasehat, bimbingan, pengajaran dan peringatan, memetik ‘ibrah atau hikmah, melatih atau membiasakan diri, dan masih banyak lagi aktivitas belajar lainnya yang harus dilakukan setiap peserta didik untuk meraih ilmu dan mengamalkannya dalam kehidupan. Berkenaan dengan tanggung jawab, dalam perspektif falsafah pendidikan Islami, tanggung jawab utama peserta didik adalah memelihara agar semua potensi yang dianugerahkan Allah Swt kepadanya dapat diberdayakan sebagaimana mestinya. Dimensi jismiyah wajib dipelihara, agar secara fisikal peserta didik mampu melakukan aktivitas belajar, meskipun harus melakukan rihlah ke berbagai tempat.
Demikian pula, dimensi ruhiyah juga wajib dipelihara, agar bisa difungsikan sebagai energi atau kekuatan untuk melakukan aktivitas belajar. Ketika peserta didik tidak mampu memelihara dimensi jismiyah dan ruhiyahnya, maka energi, daya, atau kemampuan membelajarkan diri akan terganggu, bahkan bisa menjadi tidak mampu. Karenanya, sebagaimana juga dikemukakan Nata, agar tetap mampu melakukan aktivitas belajar, setiap peserta didik memerlukan kesiapan fisik prima, akal yang sehat, pikiran yang jernih, dan jiwa yang tenang. Untuk itu, perlu adanya upaya pemeliharaan dan perawatan secara sungguh-sungguh semua potensi yang bisa digunakan untuk belajar atau menuntut ilmu pengetahuan. 

C. Sifat-Sifat Peserta Didik
Sesuai dengan karakter dasarnya, dalam Islam, ilmu itu datangnya dari al-haq dan karenanya ia merupakan al-nur atau cahaya kebenaran yang akan menerangi kehidupan para pencarinya. Sebagai al-haq, Allah Swt maha suci, dan kesuciannya hanya bisa dihampiri oleh yang suci pula. Karenanya, sifat utama dan pertama yang harus dimiliki peserta didik adalah mensucikan diri atau jiwanya (tazkiyah) sebelum menuntut ilmu pengetahuan. Karena maksiat hanya akan mengotori jasmani, akal, jiwa dan hati manusia, sehingga membuatnya sulit dan terhijab dari cahaya, kebenaran, atau hidayah Allah Swt. Setidaknya ada 2 hal yang menjadi titik fokus perhatian peserta didik dan orang tua dalam mensucikan dirinya secara totalitas.
Pertama, suci ruhaniah yaitu peserta didik harus menjauhkan sifat-sifat yang dapat merusakan atau paling tidak yang mengotori jiwa dari sucinya al-nur, atau al-haq. Karena kekotoran jiwa akan mengakibat tertutupnya sinar illahiyah menembus kalbu peserta didik.
Kedua, suci jasmaniah yaitu peserta didik harus mampu menjauhkan dari dari mengkonsumsi makanan ataupun minuman yang tidak benar baik dari segi jenis mampu sumber diperolehnya makanan/minuman tersebut. Makanan yang tidak benar/jelas, bukan makanan yang diperoleh secara halal, akan mempengaruhi kepribadian peserta didik dalam berperilaku, dan akan susah mendapatkan hidayah kebenaran dari Allah Swt.
Zainuddin dalam bukunya Filsafat Pendidikan Islam, beliau mengutip hadis Shahih Muslim dan Bukhari dalam mengemukakan sifat dan karakter yang dimiliki anak didik. Berikut beberapa sifat dan karakter yang harus dimiliki seorang anak didik: 
1) Memiliki sifat tamak dalam menuntut ilmu dan tidak malu-malu. Mujahid berkata, “Pemalu dan orang sombong tidak akan dapat mempelajari pengetahuan agama.” Aisyah berkata, “sebaik-baik kaum wanita adalah kamu wanita sahabat Anshar. Mereka tidak dihalang-halangi rasa malu untuk mempelajari pengetahuan yang mendalam tentang agama.” 
2) Selalu mengulang pelajaran di waktu malam dan tidak menyia-nyiakan waktu malam. 
3) Memanfa’atkan/mengajarkan ilmu pengetahuan yang telah dimiliki.
4) Memiliki keinginan/motivasi mencari ilmu pengetahuan.
Peserta didik hendaknya berupaya memiliki akhlak mulia, baik secara vertikal maupun horizontal dan senantiasa mengembangkan potensi yang dimilikinya dengan seperangkat ilmu pengetahuan. Sebagai seorang peserta didik yang berupaya mencari ilmu pengetahuan dan membentuk sikap dengan akhlak mulia, maka menurut Hamka peserta didik dituntut bersikap baik pada setiap guru. 

D. Etika Peserta Didik 
Dalam UU Sisdiknas Tahun 2003 pasal 3 ditegaskan pula bahwa tujuan pendidikan nasional adalah "...untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab".
Dari tujuan ini terlihat jelas bahwa mewujudkna manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan berakhlak mulia merupakan substansi dari kepribadian yang diinginkan dalam konsep pendidikan Islam itu sendiri. Demikian pula peserta didik, juga diharapkan tidak terjebak pada paham pragmatisme dan materialisme. Ada kecenderungan ketika peserta didik bersikap demikian, maka guru pun kurang dihormati. Guru hanya dianggap sebagai instrumen atau alat dalam pendidikan. Sebagaimana yang dikenal dalam falsafah alat, ia akan digunakan selagi dibutuhkan. Ketika tidak lagi dibutuhkan, maka guru pun tidak dihormati lagi. Untuk itu, peserta didik juga harus memahami apa tugas dan tanggung jawabnya sebagai peserta didik dalam perspektif pendidikan Islam.
Peserta didik yang dalam pandangan pendidikan Islam sering disebut sebagai murid sebenarnya memiliki arti ”orang yang menginginkan”. Artinya, seorang murid atau peserta didik harus menunjukkan sikap yang membutuhkan kehadiran seorang guru. Rasa ”membutuhkan” ini tentu tidak bersifat sesaat ketika ada perlu saja, tetapi dalam pandangan pendidikan Islam, seorang guru tidak hanya dihormati di saat belajar pada sekolah formal saja, sehingga disebut pula bahwa ”tidak ada mantan guru dalam pandangan pendidikan Islam”.
Dengan konsep seperti ini maka seorang peserta didik harus menunjukkan sikap kesungguhannya dalam belajar dibarengi dengan adab-nya kepada guru dengan harapan ilmu yang ia peroleh bermanfaat bagi dirinya. Selain itu, peserta didik juga harus menuntut ilmu didasari oleh motivasi awal, yaitu motivasi karena Allah SWT. Dengan motivasi ini, maka selama dalam menuntut ilmu ia harus meninggalkan hal-hal yang dilarang oleh Allah SWT. Hal ini pula yang pernah dialami oleh Imam Syafi’i. Suatu ketika ia pernah meminta nasehat kepada gurunya, Imam Waki’ sebagai berikut: “Syakautu ilâ Waki’in sûa hifzi, wa arsyadani ilâ tarki al-maâhi, fa akhbarani bianna al-‘ilma nūrun, wa nur Allahi la yubdalu al-âshi”.
Dari nasehat ini, ada dua hal yang perlu digarisbawahi, pertama, untuk memperkuat ingatan diperlukan upaya meninggalkan perbuatan-perbuatan maksiat; dan kedua, ilmu itu adalah cahaya yang tidak akan tampak dan terlahirkan dari orang yang suka berbuat maksiat. 

E.Peranan Peserta Didik Dalam Pendidikan 
Dalam dunia pendidikan peserta didik berperan sebagai organisme yang rumit yang mempunyai kemampuan luar biasa untuk tumbuh. Peranan peserta didik adalah belajar bukan untuk mengatur pelajaran. Peserta didik dituntut aktif belajar dalam rangka mengkontruksi pengetahuannya, dan karena itu peserta didik sendirilah yang harus bertanggung jawab atas hasil belajarnya. Implikasi dari konsep perkembangan individu terhadap pendidikan antara lain: 
1. Sebab perkembangan individu semenjak lahir tidak mengalir ibarat aliran air melainkan berlangsung secara bertahap, yang mana setiap tahap perkembangan mempunyai sifatnya sendiri, memunculkan masalah atau krisis-krisis tertentu yang berbeda dari tahapan sebelumnya, setiap tahap mengandung tugas-tugas perkembangan tertentu yang harus diselesaikannya, yang mana jika tugas-tugas perkembangan pada tahapannya tidak diselesaikan dengan baik maka akan berakibat negatif terhadap perkembangan selanjutnya maka individu memerlukan pendidikan untuk dapat menyelesaikan tugas-tugas perkembangan sesuai tahap perkembangannya, dan sebab itu pula individu akan dapat didik. 
2. Dalam konteks ini maka pendidikan merupakan upaya membantu peserta didik untuk dapat menyelesaikan tugas-tugas perkembangan sesuai dengan tahap.
Karena keberhasilan peserta didik menyelesaika tugas-tugas perkembangan pada tahapannya akan mempengaruhi keberhasilan penyelesaian tugas-tugas perkembangan pada tahap perkembangan selanjutnya maka pendidikan yang dilaksanakan menyimpang dari tahapan dan tugas-tugas perkembangan individu peserta didik. 
 BAB III
 PENUTUP

Kesimpulan
Peserta didik adalah anak yang sedang tumbuh dan berkembang baik secara fisik maupun psikologis, untuk mencapai tujuan pendidikan melalui lembaga pendidikan. Dalam perspektif falsafah pendidikan Islam seluruh makhluk ciptaan Allah Swt merupakan peserta didik. Namun secara khusus dalam pendidikan Islam, peserta didik adalah seluruh al insan, al-basyar atau bani adam yang sedang menuju al-insan al-kamil, baik dalam pengertian jismiyah maupun ruhiyah. Ketiga istilah tersebut yaitu
pertama, term mengandung pengertian bahwa peserta didik dalam arti mutarabbi manusia yang selalu memerlukan pendidikan, baik dalam arti pengasuhan dan pemeliharaan fisik – biologis, penambahan pengetahuan dan keterampilan, tuntunan dan pemeliharaan diri, serta pembimbingan jiwa. Dengan demikian, mutarabbi mampu melaksanakan fungsi dan tugas penciptaan Allah Swt. Tuhan maha pencipta, pemelihara dan pendidik bagi alam semesta.
Kedua, muta’allim, peserta didik mempelajari semua al-asma’kullah yang terdapat pada ayat-ayat kauniyah maupun quraniyah dalam rangka pencapaian pengenalan, peneguhan dan aktualisasi syahadah primordial yang telah pernah ia ikrarkan di hadapan Allah Swt.
Kemampuan peserta didik merealisasikan terhadap apa yang pernah ia nyatakan ini merupakan essensi dari peserta didik itu sendiri dalam filsafat pendidikan Islam. Peserta didik adalah makhluk yang berada dalam proses perkembangan dan pertumbuhan menurut fitrahnya masing-masing, dimana mereka sangat memerlukan bimbingan dan pengarahan yang konsisten menuju kearah titik optimal kemampuan fitrahnya. Berdasarkan pengertian ini, maka anak didik dapat dicirikan sebagai orang yang tengah memerlukan pengetahuan atau ilmu, bimbingan dan pengarahan. 

DAFTAR PUSTAKA 

Ahmad Tafsir,ilmu pendidikan dalam perspektif islam,Bandung:Remaja Rosdakarya,Cet.IV,2001
Assegaf Abd Rahman,Filsafat Pendidikan Islam,jakarta:PT.Raja Grafindo,2005
A.M.Sardiman,Interaksi dan Motivasi belajar mengajar,Jakarta:Rajawali Pers,1997
Arifin,Proses Komunikasi Antara Pendidik dan Anak didik.Jakarta:Sinar Baru,1991
Direktorat Jenderal Pendidikan Islam,Undang-Undang dan peraturan pemerintahan RI tentang Pendidikan,Tp:Departemen Agama,2006
Wahyudin,Pengantar Pendidikan,Jakarta:Pustaka Belajar,2002
Share this article :

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2013. Makalah - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger